Entah apa jenis kembang ini, tetapi cukup indah jika diperhatikan. Yang menjadi pertanyaan, benarkah kembang ini ada atau tidak? Atau hanya lukisan 3 dimensi yang diambil dari prespektif abstrak sang pelukisnya?.
[ Read More ]
Thursday, 12 March 2015
Saturday, 28 February 2015
Gaji Terakhir Abdullah
Abdullah (39 Tahun) Pekerja Konstruksi yang datang dari Jawa Tengah dan
bekerja di PT Takanaka Cikarang.
Sejak beberapa hari ini Buruh Perusahaan Konstruksi ini mengeluh sakit kepada teman-temannya, menurut temannya istrinya selalu menelpon dengan nada kasar padahal Abdullah seorang suami yang lembut kepada istrinya, Abdullah pulang sebulan sekali demi berhemat.
Pagi ini, Abdullah mengeluh sakit kepala dan panas dingin, selalu memegang kepalanya. Istrinya masih terus menerus menanyakan gaji kapan di transfer tanpa peduli dengan kesehatan Abdullah yang terkadang makan dan minumnya tidak jelas di kawasan Industri.
Abdullah sudah ingin diantar sama teman-temannya tetapi Abdullah pulang sendiri sekalian mau ke ATM buat transfer gaji seluruhnya kepada istri yang selalu dicintainya. Abdullah tidak mementingkan dirinya tetapi istri dan anak-anaknya adalah utama baginya, hanya sayangnya sang istri tak pernah mau tau kondisi Sang Suami.
Gaji Terakhir. Mungkin inilah uang bisa dikatakan untuk Abdullah, Dari Lokasi kerja menuju ATM Rumah Sakit Permata Keluarga, Berseragam Lengkap Perusahaanya. Setelah mentransfer semua gajinya Abdullah terkapar dijalan raya dengan otak berceceran karena sebuah truk melintas dengan cepat.
Sang Supir dan Truknya kabur, Jasad berseragam lengkap perusahaan konstruksi masih menempel itu terkapar tak bernyawa. Seakan-akan Abdullah ingin mengatakan "Istriku Sayang, Ini Gaji Mas yang terakhir, Titip anak-anak, Mas kuat disini" (Padahal Abdullah jarang makan menurut rekan kerjanya), Andullah selalu berhemat demi istri dan anak-anaknya.
Innalillahi wa inna ilaihiroji'un, (1 Jam Saya Dilapangan membantu Security menepikan kendaraan yang lewat, Sambil mengumpulkan informasi tentang Abdullah ini). Ada yang bisa mengambil pesan hikmah dari cerita Abdullah secara keseluruhan?. Silahkan Di Kolom Komentar.
Saya terenyuh dengan Kisah Buruh ini, Betapa perjuangannya menghidupi kekuarga walau tidak dihargai istrinya tak menyurutkan langkahnya untuk terus membahagiakan mereka yang hanya bisa ditemuinya 1x dalam sebulan atau bahkan 1x dalam 2 bulan.
Masihkah para istri tidak menghargai suaminya? Ingat! Ketika Seorang Pria memutuskan menikah maka itu adalah keputusan terbesar dalam hidupnya dan itu pertanda dia siap bertanggungjawab dengan keputusannya itu. Dan dia itu adalah Abdullah.
Masya Allah......
Saya Haddad Assyarkhan
[ Read More ]
Sejak beberapa hari ini Buruh Perusahaan Konstruksi ini mengeluh sakit kepada teman-temannya, menurut temannya istrinya selalu menelpon dengan nada kasar padahal Abdullah seorang suami yang lembut kepada istrinya, Abdullah pulang sebulan sekali demi berhemat.
Pagi ini, Abdullah mengeluh sakit kepala dan panas dingin, selalu memegang kepalanya. Istrinya masih terus menerus menanyakan gaji kapan di transfer tanpa peduli dengan kesehatan Abdullah yang terkadang makan dan minumnya tidak jelas di kawasan Industri.
Abdullah sudah ingin diantar sama teman-temannya tetapi Abdullah pulang sendiri sekalian mau ke ATM buat transfer gaji seluruhnya kepada istri yang selalu dicintainya. Abdullah tidak mementingkan dirinya tetapi istri dan anak-anaknya adalah utama baginya, hanya sayangnya sang istri tak pernah mau tau kondisi Sang Suami.
Gaji Terakhir. Mungkin inilah uang bisa dikatakan untuk Abdullah, Dari Lokasi kerja menuju ATM Rumah Sakit Permata Keluarga, Berseragam Lengkap Perusahaanya. Setelah mentransfer semua gajinya Abdullah terkapar dijalan raya dengan otak berceceran karena sebuah truk melintas dengan cepat.
Sang Supir dan Truknya kabur, Jasad berseragam lengkap perusahaan konstruksi masih menempel itu terkapar tak bernyawa. Seakan-akan Abdullah ingin mengatakan "Istriku Sayang, Ini Gaji Mas yang terakhir, Titip anak-anak, Mas kuat disini" (Padahal Abdullah jarang makan menurut rekan kerjanya), Andullah selalu berhemat demi istri dan anak-anaknya.
Innalillahi wa inna ilaihiroji'un, (1 Jam Saya Dilapangan membantu Security menepikan kendaraan yang lewat, Sambil mengumpulkan informasi tentang Abdullah ini). Ada yang bisa mengambil pesan hikmah dari cerita Abdullah secara keseluruhan?. Silahkan Di Kolom Komentar.
Saya terenyuh dengan Kisah Buruh ini, Betapa perjuangannya menghidupi kekuarga walau tidak dihargai istrinya tak menyurutkan langkahnya untuk terus membahagiakan mereka yang hanya bisa ditemuinya 1x dalam sebulan atau bahkan 1x dalam 2 bulan.
Masihkah para istri tidak menghargai suaminya? Ingat! Ketika Seorang Pria memutuskan menikah maka itu adalah keputusan terbesar dalam hidupnya dan itu pertanda dia siap bertanggungjawab dengan keputusannya itu. Dan dia itu adalah Abdullah.
Masya Allah......
Saya Haddad Assyarkhan
Monday, 16 February 2015
Kita Tidak Perlu Belajar Bahasa Inggris
Suatu waktu ada yang bertanya kepada saya, “Om
bisa berbahasa Inggris kan? Kan Om jadi wartawan dan sering bertemu dengan
orang-orang?,”.
Sedikit menghela nafas panjang sambil
meperhatikan yang bertanya itu, yah..anak tetangga yang baru menginjakkan kaki
kelas 1 SMP. Anak itu memang sering membuka-buka Majalah Franchise yang ada di
rumah setiap terbitan edisi baru. Ia juga pernah beberapa kali melihat saya
tampil di Majalah itu.
Dengan lembut aku balik bertanya sebelum memberi
jawaban. “Apakah kamu ada PR bahasa Inggris yang hendak diselesaikan?,” tanyaku.
Anak itu dengan polosnya tersenyum lalu berkata “Tidak
om, hanya saya diminta bisa berkomunikasi dengan Bahasa inggris dengan
teman-teman di kelas,”.
Rupanya ia ingin diajak berkomunikasi dengan menggunakan
bahasa Inggris agar lancar dan bisa memenuhi permintaan sang guru di sekolah.
Suatu saat saya merenung, dan bertanya dalam hati
seberapa pentingkah Bahasa Inggris?.
Sejak sekolah dulu sebenarnya guru bahasa Inggris
saya juga pernah mengatakan bahwa suatu saat akan memasuki masa globalisasi
sehingga memungkinkan masyarakat dari berbagai belahan dunia masuk ke
Indonesia. Disitulah kita dituntut untuk tau dan mengerti bahasa Inggris
sebagai bahasa Internasional. Alasan guru saya waktu itu agar kita tidak mudah
dibodoh-bodohi.
Sebenarnya cukup masuk akal untuk saat itu, dan
predisi itu kemungkinan besar benar karena saat ini kita sudah memasuki era
Masyarakat Ekonomi Asean. Kondisi yang memungkinkan orang bebas keluar masuk
dalam dan luar negeri.
Ini menjadi menarik ketika kemampuan berbahasa
Inggris penduduk Indonesia yang boleh dibilang minim. Lalu, apakah benar kita
akan dibodohi? Apakah kita wajib tau bahasa yang katanya Internasional itu?
Disini saya perlu tegaskan bahwa ternyata kita
tidak perlu tau bahasa Inggris tersebut. Kenapa? Karena sebenarnya kitalah
pemegang kendali dalam negeri, kitalah pemilih NKRI ini. Saya akan mengambil
sebuah perandaian antara pemilik rumah dan tamu.
Apakah kita sebagai pemilik
rumah wajib mengerti bahasa tamu yang datang ke rumah kita? Nyatanya tidak, dan
tamulah yang wajib tau bahasa kita. Orang asing yang ke Indonesia-lah yang
wajib bisa berbahasa Indonesia.
Kita harus memaksa mereka belajar bahasa
Indonesia, dan hanya kita yang bisa memaksa mereka. Caranya? Kita tidak perlu
lebay melayani orang asing dengan bahasa Inggris.
Mari kita renungkan kisah berikut :
Suatu ketika, saya bertemu dengan seorang pebisnis
asal Jepang yang juga sukses membangun brand-nya
di Indonesia dalam sebuah acara. Saat itu saya mengajak dia ngobrol menggunakan
bahasa Indonesia, dan rupanya dia menggunakan bahasa isyarat sebagai tanda bahwa
ia tidak bisa berbahasa Indonesia. Sayapun kembali menggunakan bahasa Inggris
seadanya, diapun melambaikan tangannya.
Tidak lama kemudian datang stafnya yang memang
mengurusi bisnis di Indonesia. Dia lalu
mendampingi saya menjadi translate atau orang yang mengartikan bahasa saya ke
dalam bahsa Jepang untuk disampaikan ke pengusaha sukes itu.
Karena informasi yang saya dapatkan dari orang
itu sangat minim, dan sang sekretaris tidak bisa menjawab pertanyaan saya yang
lebih spesifik, maka saya dipertemukan dengan pemimpin perusahaan itu untuk
wilayah Asia Tenggara. Kejadiannya sama, yaitu sama-sama tidak mengerti bahsa
Inggris.
Setelah acara, saya semakin penasaran, kenapa
pengusaha asal Jepang itu mayoritas tidak bisa menggunakan bahasa Inggris,
padahal bisnisnya telah mendunia. Boleh dikata setiap negara ia memiliki kantor
cabang.
Saya menghampiri staf yang tadinya mendampingi
saya lalu bertanya “Maaf saya mau tanya, kenapa para pejabat di kantor Ibu
tidak ada yang bisa berbahasa Inggris?,”. Dia pun memberi jawaban yang membuat
saya terkejut. “Mereka memang tidak mau belajar Bahasa Inggris dan di setiap
negara sudah ada staf-staf yang setidaknya bisa mengerti bahasa di negara
tersebut,” kata dia.
Tanpa disengaja, saya juga mendapat tugas kantor
untuk mewawancarai pimpinan sebuah Organisasi Pemerintah Jepang bidang Ekonomi.
Di organisasi itu saya mendapatkan informasi bahwa dari 9 karyawan yang ada, 7
diantaranya adalah orang Indonesia yang wajib
mahir berbahasa Jepang sebagai syarat untuk diterima bekerja di organisasi
tersebut.
Kesimpulannya : Adakah hubungannya dengan
kewajiban kita untuk mahir berbahasa Inggris? Rupanya tidak. Dan jelas bahwa dari
cerita tersebut, saya bisa menyimpulkan bahwa barang siapa yang membutuhkan
maka dialah yang wajib tahu bahasa kita. Jika orang asing membutuhkan kita maka
kita punya hak untuk memaksa mereka belajar bahasa Indonesia, begitupun
sebaliknya jika kita ingin mengembangkan usaha, atau sekolah ke luar negeri
maka kitalah yang wajib belajar Bahasa Inggris.
Thursday, 12 February 2015
Saatnya Produk UMKM Masuk Jaringan Ritel Modern
Keragaman
produk-produk Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Sulawesi Tenggara
menumbuhkan harapan baru untuk sektor perekonomian kita jika mampu memanfaatkan
peluang secara maksimal. Salah satunya adalah memperluas market melalui
jaringan ritel modern atau pusat-pusat perbelanjaan.Angin segar bagi para pelaku UMKM ini bukanlah isapan jempol belaka, karena pemerintah melalui Kementerian Perdagangan, sudah memberikan dukungan melalui Permendag Perpres Nomor 112 Tahun 2007 tentang Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern. Serta Permendag No. 56/M-DAG/PER/9/2014 Jo, dan Permendag No. 70/M-DAG/PER/12/2013 tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern.
Dalam
permendag nomor 70, Pasal 14 sampai dengan pasal 17 tertulis jelas bahwa, kemitraan dalam mengembangkan UMKM di Pusat Perbelanjaan
dan Toko Modern dapat dilakukan dengan dua pola yaitu pola perdagangan umum dan pola waralaba.
Pola perdagangan umum, terdiri
dari tiga yakni, pertama,
kerja sama pemasaran yaitu memasarkan barang hasil produksi UMKM yang dikemas
atau dikemas ulang (repackaging)
dengan merek pemilik barang, merek toko modern atau merek lain yang disepakati
dalam rangka meningkatkan nilai jual barang.
Kedua, penyediaan lokasi usaha yaitu menyediakan ruang usaha
dalam Pusat Perbelanjaan kepada Usaha Mikro dan Usaha Kecil sesuai dengan
peruntukan yang disepakati. Ketiga,
penyediaan pasokan yaitu penyediaan barang dari pemasok ke Pusat Perbelanjaan
dan Toko Modern.
Keempat, adalah pola waralaba, dimana kemitraan dengan pola waralaba dilakukan
berdasarkan peraturan perundang-undangan di bidang waralaba. Pola ini tertuang
dalam beberapa pasal yang diringkas dalam empat poin berikut.
Pertama, mengharuskan toko modern mengutamakan pasokan barang
produksi dalam negeri yang dihasilkan UMKM sepanjang memenuhi persyaratan yang
ditetapkan oleh Toko Modern (Pasal 17 ayat 1 Permendag No. 70 tahun 2013. Kedua, memberikan
kesempatan kepada pemasok dari Usaha Mikro dan Usaha Kecil dengan nilai pasokan
sampai dengan Rp.10 juta untuk menerima pembayaran tunai dalam jangka waktu 15
hari (Pasal 13 ayat 1 Permendag No. 70 tahun 2013.
Ketiga, membebaskan pemasok dari Usaha Mikro dan Usaha Kecil
dari pengenaan biaya administrasi pendaftaran barang (listing fee)
terdiri dari Pasal 13 ayat 3 Permendag No. 70. Dan keempat, membuka
peluang bagi toko modern untuk memasarkan barang dengan merek sendiri (private label dan
atau house brand)
paling banyak 15 persen dari keseluruhan jumlah barang dagangan, dengan syarat
harus mengutamakan barang hasil produksi UMKM.
Dari uraian di atas, terlihat jelas bahwa pemerintah
bersama pusat perbelanjaan dan ritel modern telah memberikan akses pasar bagi
produk UMKM. Yang jadi pertanyaan adalah, Siapkah kita menyambut hal itu?
Sebagai
pelaku UMKM, mayoritas kendala yang kerap dihadapi adalah syarat untuk memasuki
pasar tersebut. Karena setiap peritel modern atau pusat perbelanjaan memiliki
standar-standar tertentu. Tetapi dari sekian banyak brand jaringan
ritel modern di Indonesia, baik mini market maupun super market, yang paling
utama menjadi pertimbangan yaitu, standar kualitas kemasan, kualitas produk,
dan minimal memiliki ijin P-IRT dan sertifikat Halal.
Kualitas
kemasan dimaksud adalah menarik untuk dilihat, tidak mudah rusak, terbuat dari
bahan yang aman, menampilkan informasi lengkap mulai dari bahan baku pembuatan,
produsen, brand dan tanggal kadaluarsa. Sementara kualitas produk yaitu,
memiliki keunikan rasa ataupun bentuk yang belum ada di super market atau mini
market tersebut.
Alfamart,
salah satu jaringan peritel mini market modern yang terkenal di Indonesia
dengan ribuan cabangnya, menyatakan bahwa dalam menyambut regulasi pemerintah,
pihaknya telah bekerja sama dengan lebih dari 100 pemasok dari kalangan
UMKM. Bahkan
minimarket ini menaruh perhatian besar terhadap UMKM melalui pembinaan dan pemberdayaan UMKM dalam program Corporate Social Responsibility.
Selama
ini sistem kerja sama yang dibangun di Alfamart yaitu perusahaan menjual produk yang diproduksi pelaku UMKM. Selanjutnya produk
para pelaku UMKM dipasarkan melalui produk Home Brand Private
Label dengan merk Alfamart. Produk yang dijual sebagian besar untuk
kategori makanan.
Alfamart
juga menyiapkan Tenant
yaitu ruang bagi para UMKM untuk berjualan di halaman toko. Bagi pelaku UMKM yang
ingin bekerja sama, maka harus memenuhi beberapa kriteria seperti berikut.
Pertama, kualitas barang yakni, produk yang dijual harus
memenuhi standar kualitas yang telah ditentukan perusahaan, minimal berlabelkan
SNI. Kedua,
nama merek dan kemasan yaitu produk yang dipasok harus memiliki kemasan
yang menarik, tidak mudah rusak dan terbuat dari bahan yang aman.
Ketiga, mencantumkan kode produksi, tanggal
pemakaian, komposisi isi dan volume sebagai bentuk perlindungan kepada
konsumen. Keempat,
spesifikasi produk dimana produk yang ditawarkan harus memiliki spesifkasi
produk dari segi taste
(rasa), bentuk, kemasan,dan lain-lain. Kelima, kemampuan
supply barang
yakni produsen harus mampu konsisten mengirimkan produknya sesuai dengan
kesepakatan baik dari segi jumlah maupun kontinuitasnya.
Selain
Alfamart, 7-Eleven juga menyiapkan outlet-outlet
khusus yang bisa dimanfaatkan bagi para pelaku UMKM. Outlet tersebut melakukan penjualan dan pendistribusian produk-produk para
UMKM. Termasuk
pembinaan dan pelatihan kualitas produksi, hingga packaging yang
lebih baik serta tetap higienis.
7-Eleven menysaratkan setiap produk UKM yang hendak dipasarkan setidaknya
memiliki ijin P-IRT.
Selain
dua brand
tersebut, mayoritas peritel di Indonesia telah memberi fasilitas untuk para
pelaku UMKM. Misalnya, Indomaret, Hypermart, Carrefour, Gyant, Superindo, dan
lain-lain.
Lalu?
Pentingkah kita memasuki jaringan ritel modern? Jawabannya “sangat penting”
untuk branding. Dan
kesuksesan branding
tersebut akan menentukan eksistensi produk kita dipasaran baik skala domestik
maupun global. Dan memasuki Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) 2015 tahun ini mau
tidak mau Indonesia sudah terjajah merek asing.
Tidak
ada cara untuk melawannya selain, membangun kesadaran masyarakat akan kemampuan
merek-merek lokal Indonesia untuk memiliki daya saing. Dengan kualitas produk,
kemasan, dan strategi pemasaran yang berdaya saing, produk kita akan menjadi
tuan rumah di negeri sendiri dan menang dipasar global.
Wednesday, 21 January 2015
Setelah 15 Tahun
Awal bertemu Ibu itu saya sedikit heran, kok suami wanita
itu tega yah menghamili istrinya yang menurut pandangan saya wanita itu tidak
mungkin berusia dibawah 50 tahun. Tetapi saya berfikir sangat positif mungkin
karena kecantikan wanita itu yang membuat sang suami sedikit agresif.
Sambil meneguk teh yang kekurangan gula, saya terus
mengikuti pemaparan Mr.GP salah satu praktisi hukum internasional yang memaparkan peluang bisnis di Indonesia
dari sudut pandang hukum. Di meja paling depan saya melihat Ibu hamil tadi
begitu penting diantara para peserta
yang hadir dari sejumlah negara. Ia kerap dimintai tanggapan oleh para praktisi lain.
Memasuki waktu istirahat sore, saya menghampiri wanita itu
dan mengajaknya ngobrol. Dan benar saja ia adalah pimpinan salah satu
perusahaan ternama di Indonesia yang sudah memiliki nama besar di luar negeri.
Tak menyia-nyiakan kesempatan, saya menggali informasi
sedalam-dalamnya dari wanita itu. Bahkan beberapa statemen penting yang
diucapkan tentang bagaimana memproteksi bisnis dari berbagai sisi saya rekam
menggunakan handphone.
Wanita itu berbicara dengan lembut sambil sesekali menatap saya dengan mimik serius. Saya pun mengangguk-anggukkan kepala.
Tiba-tiba dari belakang wanita lain berteriaak dengan
kencang.... "Hay sayang....bagaimana kabarmu? wahh kamu makin cantik
yah..!!" sambil berlari menghampiri ibu disamping saya yang tengah serius
mengobrol. Pembicaraan saya dengan Ibu hamil tadi sontak terhenti lalu saya
terdiam sambil memperhatikan kedua Ibu itu berpelukan dan berciuman.
"Sudah lama yah kita tidak bertemu.
Dan....wawww.....kamu hamil say.?" tanya wanita itu sambil mengelus perut Ibu
hamil tadi.
"Iyahh...sayang....SETELAH 15 TAHUN," jawab ibu
itu dengan senyum bahagia.
Saya menundukkan kepala merasa bersalah. Rupanya bayi dalam
kandungannya itu adalah buah dari penantian panjangnya sejak 15 tahun yang
lalu.
"Maafkan saya Bu, saya tadi telah menaruh prasangka
yang tidak-tidak terhadap Ibu," sambil menyalami Ibu itu lalu mematikan
rekaman hanphone yang sejak tadi lupa dimatikan.
Kamipun melanjutkan pembicaraan, tetapi kali ini temanya bukan lagi tentang bisnis melainkan tentang penantian panjang Ibu itu.
"Iyah mas, saya sudah cukup sabar menanti moment-moment seperti ini dan saya sangat bahagia sekarang walaupun harus melalui ujian kesabaran yang cukup panjang," ucap Ibu itu.
Setelah panjang lebar cerita, satu hal yang bisa saya petik dari cerita Ibu ini, bahwa tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Dengan usia yang terbilang tidak muda-pun wanita bisa hamil. Jadi? tidak perlu galau jika belum di anugerahi keturunan karena Tuhan lebih tau cara membahagiakan kita.
Kamipun melanjutkan pembicaraan, tetapi kali ini temanya bukan lagi tentang bisnis melainkan tentang penantian panjang Ibu itu.
"Iyah mas, saya sudah cukup sabar menanti moment-moment seperti ini dan saya sangat bahagia sekarang walaupun harus melalui ujian kesabaran yang cukup panjang," ucap Ibu itu.
Setelah panjang lebar cerita, satu hal yang bisa saya petik dari cerita Ibu ini, bahwa tidak ada yang mustahil jika Tuhan berkehendak. Dengan usia yang terbilang tidak muda-pun wanita bisa hamil. Jadi? tidak perlu galau jika belum di anugerahi keturunan karena Tuhan lebih tau cara membahagiakan kita.
Friday, 9 January 2015
Jangan Menangis yah "Gorengan Untuk Adik"
Ada banyak orang yang menyesali kondisinya saat ini, tetapi ia tidak menyadari bahwa banyak orang yang hidupnya lebih susah dari apa yang kita dapatkan saat ini. Anak ini akan mengajarkan kita bagaimana hidup miskin yang ikhlas.
Sunday, 28 December 2014
Dibalik Kebakaran Pasar Klewer
Kebakaran Pasar Klewer, Solo, Jawa Tengah, pada Sabtu malam (27/12),
memang cukup mencengangkan. Diluar dari pada hitung-hitungan kerugian
yang dialami para pedagang, pasar itu kini mulai menimbulkan banyak
pertanyaan dibenak kita “bagaimana bisa terbakar?”.
Sejatinya jawaban itu menjadi kewenangan para penegak hukum setelah melakukan penyidikan. Tetapi nampaknya dilapangan situasinya berbeda, sudah banyak pihak-pihak yang menyimpulkan bahwa kebakaran salah satu icon Solo tersebut diduga disengaja oleh pihak-pihak tertentu.
Jika ditarik benang merah dari kesimpulan tersebut, lalu siapa yang memiliki kepentingan dari kebakaran itu?. Pertanyaan ini cukup sederhana dan jawabanya juga bisa didapatkan jika kita bersedia menunggu pasca kebakaran. Caranya cukup melihat akan ada bangunan apa ditempat itu pasca kebakaran.
Mari kita berkunjung sejenak di Provinsi Sulawesi Tenggara, tempat dimana ada tiga pasar sentral kota Kendari yang berada tepat di jantung kota. Pertama, pasar Wua-Wua, kedua pasar Mandonga, dan ketiga pasar Kota. Ketiga pasar ini masing-masing cukup strategis tetapi mengalami nasib yang sama yaitu sama-sama terbakar.
Ketiga pasar itu mengalami kebakaran berkali-kali hingga rata dengan tanah. Kini ketiga pasar itu berubah wajah, sama-sama menjadi pasar modern atau mall dan salah satunya dimiliki oleh pihak swasta.
Lalu bagaimana nasib para pedagang tradisional yang menempati pasar itu sebelumnya? Mau tidak mau mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sewa tempat yang baru. Sebenarnya jika melihat fungsinya yang modern, tidak jadi masalah bagi mereka pemilik modal cukup.
Tetapi bagi mereka yang memiliki keterbatasan permodalan, maka secara otomatis akan tersingkir. Inilah yang menjadi ketakutan banyak para pedagang ketika pasar tradisional mereka digusur dan ditawari dengan konsep yang baru.
Ketakutan itu menjadi sebuah tembok raksasa yang kerap dihadapi oleh pemegang tampuk kekuasaan ketika kebijakan mereka harus diterapkan. Bisa dibayangkan, pemerintah harus berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan jiwa jika ingin merubah konsep pasar tradisional. Tembok raksasa itu akan sulit ditembus melalui jalur negosiasi damai atau jalur dialog.
Kondisi itu menyebabkan lahirnya kebijakan yang namanya “Kebijakan Tangan Besi” alias kebijakan terakhir yang akan memaksa para pedagang tersingkir secara otomatis. Dengan apa? Tepatnya adalah kebakaran.
Konsep kebakaran ini punya keampuhan dalam penerapan kebijakan secara cepat dan tepat walaupun harus mengorbankan para pedagang. Dan di Indonesia sendiri, konsep seperti ini bukan menjadi sesuatu yang baru.
Mungkinkah Pasar Klewer juga demikian? Entahlah, yang jelas kebakaran pasar yang diresmikan sejak Juni 1971 itu terjadi ditengah rencana revitalisasi Pasar Klewer. Dan sejauh ini sebagian besar para pedagang masih keberatan karena khawatir akan membuat penghasilan menurun drastis.
Jawaban yang lebih simpel sebenarnya bisa diperoleh di seputaran para pedagang setempat. Dan mereka bisa memiliki asumsi sendiri karena merekalah yang mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Kebakaran Pasar Klewer memang banyak disesalkan oleh para pihak bukan saja datang dari Pulau Jawa, tetapi dari berbagai pelosok tanah air. Kecintaan mereka akan pasar yang terkenal dengan batiknya itu tak bisa disembunyikan. Bahwa mereka juga ikut prihatin dengan kondisi yang dialami saudara-saudaranya di pasar Klewer.
Semoga para pedagang di Pasar Klewer dibangkitkan semangatnya, dilimpahkan lebih banyak lagi rejekinya. Ditabahkan hatinya serta diberi kemudahan akan apa yang menjadi rencana dan harapannya kedepan. Aamiin Aamiin Aamiin yrb.
[ Read More ]
Sejatinya jawaban itu menjadi kewenangan para penegak hukum setelah melakukan penyidikan. Tetapi nampaknya dilapangan situasinya berbeda, sudah banyak pihak-pihak yang menyimpulkan bahwa kebakaran salah satu icon Solo tersebut diduga disengaja oleh pihak-pihak tertentu.
Jika ditarik benang merah dari kesimpulan tersebut, lalu siapa yang memiliki kepentingan dari kebakaran itu?. Pertanyaan ini cukup sederhana dan jawabanya juga bisa didapatkan jika kita bersedia menunggu pasca kebakaran. Caranya cukup melihat akan ada bangunan apa ditempat itu pasca kebakaran.
Mari kita berkunjung sejenak di Provinsi Sulawesi Tenggara, tempat dimana ada tiga pasar sentral kota Kendari yang berada tepat di jantung kota. Pertama, pasar Wua-Wua, kedua pasar Mandonga, dan ketiga pasar Kota. Ketiga pasar ini masing-masing cukup strategis tetapi mengalami nasib yang sama yaitu sama-sama terbakar.
Ketiga pasar itu mengalami kebakaran berkali-kali hingga rata dengan tanah. Kini ketiga pasar itu berubah wajah, sama-sama menjadi pasar modern atau mall dan salah satunya dimiliki oleh pihak swasta.
Lalu bagaimana nasib para pedagang tradisional yang menempati pasar itu sebelumnya? Mau tidak mau mereka harus merogoh kocek lebih dalam untuk membayar sewa tempat yang baru. Sebenarnya jika melihat fungsinya yang modern, tidak jadi masalah bagi mereka pemilik modal cukup.
Tetapi bagi mereka yang memiliki keterbatasan permodalan, maka secara otomatis akan tersingkir. Inilah yang menjadi ketakutan banyak para pedagang ketika pasar tradisional mereka digusur dan ditawari dengan konsep yang baru.
Ketakutan itu menjadi sebuah tembok raksasa yang kerap dihadapi oleh pemegang tampuk kekuasaan ketika kebijakan mereka harus diterapkan. Bisa dibayangkan, pemerintah harus berhadapan dengan ratusan bahkan ribuan jiwa jika ingin merubah konsep pasar tradisional. Tembok raksasa itu akan sulit ditembus melalui jalur negosiasi damai atau jalur dialog.
Kondisi itu menyebabkan lahirnya kebijakan yang namanya “Kebijakan Tangan Besi” alias kebijakan terakhir yang akan memaksa para pedagang tersingkir secara otomatis. Dengan apa? Tepatnya adalah kebakaran.
Konsep kebakaran ini punya keampuhan dalam penerapan kebijakan secara cepat dan tepat walaupun harus mengorbankan para pedagang. Dan di Indonesia sendiri, konsep seperti ini bukan menjadi sesuatu yang baru.
Mungkinkah Pasar Klewer juga demikian? Entahlah, yang jelas kebakaran pasar yang diresmikan sejak Juni 1971 itu terjadi ditengah rencana revitalisasi Pasar Klewer. Dan sejauh ini sebagian besar para pedagang masih keberatan karena khawatir akan membuat penghasilan menurun drastis.
Jawaban yang lebih simpel sebenarnya bisa diperoleh di seputaran para pedagang setempat. Dan mereka bisa memiliki asumsi sendiri karena merekalah yang mengetahui kondisi sebenarnya di lapangan.
Kebakaran Pasar Klewer memang banyak disesalkan oleh para pihak bukan saja datang dari Pulau Jawa, tetapi dari berbagai pelosok tanah air. Kecintaan mereka akan pasar yang terkenal dengan batiknya itu tak bisa disembunyikan. Bahwa mereka juga ikut prihatin dengan kondisi yang dialami saudara-saudaranya di pasar Klewer.
Semoga para pedagang di Pasar Klewer dibangkitkan semangatnya, dilimpahkan lebih banyak lagi rejekinya. Ditabahkan hatinya serta diberi kemudahan akan apa yang menjadi rencana dan harapannya kedepan. Aamiin Aamiin Aamiin yrb.
Tuesday, 16 December 2014
Pesan dari Rider 17 Tahun Penakluk I6D Enduro 2014
Namanya memang tidak setenar atlit-atlit crosser nasional atau pembalap-pembalap
yang dimiliki Indonesia, tetapi kemampuannya tidak perlu diragukan lagi. Ia
adalah satu-satunya peserta termuda dari Indonesia yang sukses menaklukkan Indonesian Six Days Enduro atau lebih dikenal
dengan I6 DE.
Sebuah event besar yang digelar di Indonesia
setiap tahunnya dengan rute terpanjang hingga ratusan kilometer dimana ditempuh
selama 6 hari. Tahun 2014 event I6DE mengambil jalur Singkawang - Pontianak dan bertajuk Borneo Equator 360 - Indonesia to Malaysia. Walaupun tanpa kompetisi, event tersebut sangat menarik karena
pesertanya dibatasi hanya 50 orang dan mereka adalah kumpulan rider-rider
tangguh di Indonesia.
Menjadi menarik ketika seorang anak berusia 17
tahun yang masih duduk di bangku sekolah SMKN 1 Kediri itu sudah terjun di event seperti itu sementara banyak seusianya yang tengah
sibuk menikmati masa-masa ABGnya alias hura-hura dan nongkrong bersama
teman-temannya di mall atau tempat-tempat keramaian.
Apa yang dilakukan oleh lelaki bernama lengkap
Redhy Yudho itu, memang tidak semua bisa menirukannya atau mengikuti
jejaknya, tetapi setidaknya bisa menginspirasi kita semua khususnya anak-anak
seusianya bagaimana menikmati masa remaja dengan hal-hal positif.
Dibalik perjalanannya ada banyak pesan yang bisa
kita petik baik bagi masyarakat umum maupun pemerintah Indonesia agar memberi
perhatian lebih di pedalaman.
Berikut saya merangkumnya dalam sebuah percakapan
singkat bersama Redhy, yang lahir di Kediri, 23 November 1997.
Anda
adalah peserta termuda, dan boleh dikatakan ini adalah event pertama yang akan
anda lewati. Apa motifasinya mengikuti ini?
Iyah saya memang baru pertama mengikuti event ini
tapi sebelumnya saya juga sudah mempersiapkan diri khususnya fisik dan mental.
Saya mengikuti ini tidak lepas dari motifasi yang kuat dari kedua orang tua
saya. Merekalah yang menjadikan saya bisa seperti saat ini dan saya tidak cukup
jika hanya berterimakasih.
Apa
pengalaman yang anda dapat dari event itu?
Pengalaman saya disana selama event six days
sangat mengasikan karena semua pesertanya baik dan bisa diajak saling sharing. Memang sih
waktu pertama mau start paginya sempat gugup keringat dingin tapi semua bisa
saya atasi karena saya yakin bisa menghadapi semua ini.
Bagaimana
perasaan anda ketika memulai perjalanan?
Di etape 2 saya sempat agak kelelahan mencari
tanda rutenya dan masuk ke rute yang sulit yang tidak seharusnya dilewati
peserta soalnya ternyata rute nya sudah diubah tapi belum bilang ke peserta . Etape ketiga, keempat, kelima, keenam
alhamdulilah bisa saya lewati dengan mudah walaupun mendapat halangan pecah ban
sama kampas rem depan belakang habis dan kampas itu habis saat etape keenam padahal
etape keenam jalurnya sangat enak dan full spedd. Tanpa pikir panjang saya pun full speed tapi tanpa memakai rem kalau
di pikir exstremm ya sangat exstreem.
Selama
perjalanan, apa yang paling berkesan menurut anda?
Yang paling berkesan waktu etape kedua sampe
seterusnya kebersamaan pun mulai muncul tolong menolong hingga istirahat
bersama guyonan bareng hal itu pling berkesan. Karena bisa menghilangkan rasa
capek dan rasa tegang sehabis melibas jalur-jalur yang di sediakan panitia.
Perjalanan
ini adalah rute yang tidak mudah, dan tentu banyak kendala-kendalanya. Diluar
dari pada pecah ban, dan kampas rem habis, apa saja kesulitan yang sangat
dirasakan selama perjalanan?
Kesulitan saya, waktu lihat kubangan lumpur dan
sungai, karena kubangan lumpur disana sangat beda dengan disini.
Apa
yang beda dari kubangan lumpur itu?
Disana kubangannya dalam-dalam karena bekas mobil
4x4 lewat. Extrimnya kita harus benar-benar memilih jalan atau tidak memilih
jalan yang ada bekas motor lewat. Capeknya lagi kalau salah jalur angkat
motornya sangat susah karena ketarik lumpur.
Apa
prinsip yang anda pegang dalam event tersebut sehingga bisa sukses
menjalaninya?
Untuk megatasi kesulitannya itu sangat mudah
cukup kita percaya diri dan yakin bahwa kita bisa melewati rintangan itu.
Lalu
yang membuat anda bersemangat?
Yang membuat saya semangat adalah kebersamaan
waktu event sangat terasa dan saya mencoba tidak mengecewakan orang tua.
Apa
hikmah yang anda petik selama perjalanan?
Hikmahnya saya melihat di pedalaman berbagai desa
orang-orangnya sangat baik dan pintar tetapi kenapa tidak mau bekerja di kota padahal
dia mempunyai pontensi yang bagus dan di pedalaman itu kurang dipantau oleh
pemerintah. Masa ada desa yang listriknya bergiliran.
Berikut Dokumentasi perjalanan :



Wednesday, 3 December 2014
Lentera Yang Terabaikan
Ketika alismu menggerutu
dengan keyakinan yang engkau bangun secara sepihak, saat itulah engkau telah
mengabaikan setapak lurus yang sudah bersaksi atas telapak-telapakku.
[ Read More ]
Kau tahu? Sebenarnya
aku punya kekuatan untuk menggetarkan bibirku hingga memecah belah ketenangan langit-langit rumah. Tetapi itu tak
mungkin, karena tanganku tengah gagah memegang kendali untuk merencanakan
perjalanan indah di samudera ini.
Aku tak meminta
terimakasih atas lelahku atau meminta kau menyambutku dengan senyum walaupun
itu hambar. Aku juga tak menuntut kau memuliakanku bag raja dalam singasana
bertahtahkan emas dan berlian. Dan aku takkan memaksa lututmu tertekuk selain
didepanNya.
Aku terlihat kuat,
dan bagiku itu sebuah pilihan wajib yang harus kulekatkan di dada kananku ketika
tangan kiriku tak kuasa lagi mengelus pundaku sendiri yang terlelap.
Aku terus berdiri
tegap dihadapanmu untuk membuktikan bahwa ucapanku dulu tak terabaikan. Takkan
kubiarkan bening-bening putih melintas tak sengaja apalagi sampai pamit untuk menghalangi
pandanganku. Biarlah aku hanya memandangi kecantikanmu dan senyum malaikat siang
malamku.
Aku tak memaksamu
tahu bahwa aku bertaruh dengan waktu yang kapan saja bisa memintaku berhenti
berlari. Yang aku tahu aku harus terus berlari…dan berlari.
Tak ada rasa perih
yang kulekatkan walaupun prasangka-prasangka gelap yang teramat mudah terlahir begitu
ramai mengisi waktuku. Aku akan tetap membalas semua itu dengan kecupan sayang.
Dan dalam diamku ini
telah kulahirkan sejuta kecupan yang terus tumbuh sebagai benih kasih sayang
ditengah beling-beling yang terus melukai telapakku. Aku akan terus berjalan sambil
memeluk erat awan gelap.
Ribuan pesan terucap
dari bibir polosmu yang tengah menggigil kedinginan, ia dengan damai mengalir
menelusuri sungai-sungai tua yang tidak lagi memberi ruang bagi ikan-ikan. Daun-daunpun berguguran mengeluh atas cahaya mentari
pagi. Sementara wanita renta ditepi sungai itu sibuk memberi seteguk air kepada
anaknya.
Sampai kapan lentera
itu terabaikan?
Kan kubiarkan
pundakku melegam dibawah terik lalu tertidur dengan mata lelah. Biarlah aku mengelus
dadaku dalam heningnya malam agar malaikat menyaksikannya.
Tuesday, 2 December 2014
MUNGKIN
Gelas kaca…aku berbisik padamu tentang malam
Berilah aku sedikit teduh tanpa harus merintih
Seperti belalang tua yang terperosok dalam jurang
Mungkin ia mati dan mengering sia-sia
Bisu…dan terdiam
Itu jawaban dari padanganmu
Sakit…dan menyakitkan
Mungkin malam lagi tak bersahabat
Jariku bertahan dibalik kisah singkat yang membungkus rasa
lapar
Tahukah kau? Banyak semut-semut kecil berserah dengan
sia-sia
Mereka terkapar, berdarah, kejang-kejang dan tersapu angin
Mungkin itu isyarat mereka yang terburuk
Apakah aku harus mengadu pada malam?
Apakah aku harus meringis tersungkur?
Ataukah harus membiarkanmu menangis atasku melalui kabar?
Ataukah kau menganggap ini film bolywood atau sinetron?
Oh tidak…..cukup-cukup-cukup kataku
Ini bukan sebuah sinetron yang bisa bangkit hanya dengan
tetesan air mata
Bahwa jari-jari ini telah memberi isyarat agar tetap ikhlas untuk
mengelus
Bahwa mataku masih tegar memandang tanpa senyum ketika
kuterlelah
Dan biarkan pemilik malam menjawabnya...........
Dan biarkan pemilik malam menjawabnya...........
Oleh : Julhan Sifadi
Subscribe to:
Posts (Atom)










