skip to main | skip to sidebar

Julhan Sifadi

Aspirasi & Inspirasi

Pages

  • Beranda
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • PIN BB
  • 23a000af
  • Line Telp
    • 0813 4156 3334
    • 0815 6611772
  • email
    • julhansifadi@yahoo.com
Monday, 9 November 2015

Perjuangan Tak Berujung

Posted by Julhan Sifadi at 04:25 – 2 comments
 
Kamis 5 November, pukul 03.30 saya menjadi orang pertama yang keluar dari komplek perumahan. Portal si pembatas jalan yang begitu setia menjaga keamanan warga sekitar masih enggan untuk menyapaku. Bisa jadi karena kebiasaannya yang mulai bergiat pada pagi hari jelang pukul 05.00.

Tapi sudahlah, saya segera meninggalkan lingkungan perumahan menuju akses jalan utama untuk menunggu taxi ke bandara Soekarno Hatta. Hari itu saya diwanti-wanti agar pukul 6 harus sudah di bandara karena akan berangkat pada pukul 08.00 menuju Bali.

Tidak ingin mengambil resiko, sayapun telah mempersiapkan diri untuk berangkat lebih awal mengingat jarak Duren Sawit tempat tinggalku menuju bandara cukup jauh. Belum lagi menghadapi kemacetan ibu kota.

Pukul 05.00 saya sudah sampai di Bandara dan ternyata sudah banyak teman-teman yang bersantai di sana. Seorang wanita berambut panjang tiba-tiba menyapaku dengan semangat dari raut wajahnya, “Hai mas Julhan, apa kabar terimakasih sudah mau hadir?”. Ia mengeluarkan beberapa lembar catataannya lalu mencontreng nama saya pertanda telah hadir ditempat itu.

Wanita itu memang akan disibukkan dengan urusan perjalanan saya dan rekan-rekan wartawan lain yang jumlahnya kurang lebih 50an orang dari berbagai media. Dia adalah Lizza Semestany, Marketing Communication Department PT Epson Indonesia. 

Setelah beberapa saat berkumpul di terminal 2F keberangkatan domestik, Lizza mengarahkan kami menuju lounge. Disanalah kami bersama rekan lain sarapan dan bersantai sambil menunggu keberangkatan pesawat.

Canda dan tawa menghiasi ruang bersantai itu hingga pukul 09.30 dan tanpa disadari ternyata waktu keberangkatan sudah lewat 1 jam dari waktu keberangkatan semestinya. 

Saya memerhatikan beberapa rekan yang duduk disekitar termasuk Lizza dan beberapa panitia Epson yang lain tampak masih bersemangat. Tidak satupun dari mereka yang memperlihatkan kekhawatiran tentang informasi ditutupnya bandara Ngurah Rai Bali akibat erupsi gunung Rinjani.

Seorang ibu berkerudung yang tadinya sibuk modar-mandir dan menelepon kiri kanan tiba-tiba meminta waktu sesaat kepada kami untuk mendengarkannya.

Dengan suara terbata-bata “Kami memohon maaf karena baru saja mendapatkan konfirmasi bahwa pesawat Garuda Indonesia yang akan kita tumpangi tidak dapat mendarat di Ngurah Rai Bali. Untuk itu keberangkatan kita hari ini ditunda besok pagi dan kami akan selalu meng update informasi terkini jika sewaktu-waktu bandara Ngurah Rai telah di buka kembali,” kata Ibu itu.

Saya belum mengenal Ibu itu, tetapi yang pasti ia adalah salah satu penanggung jawab atas keberangkatan rombongan wartawan menuju Bali. Seluruh rombongan wartawan berusaha menenangkan Ibu itu yang matanya berkaca-kaca.

“Kami mengerti Bu, ini adalah kondisi alam yang tidak bisa diprediksi dan tidak diinginkan oleh siapapun,” kata salah satu rekan yang duduk di kursi paling pojok.

Pasca informasi itu, Lizza dan tim mempersiapkan akomodasi kepulangan wartawan menuju rumah masing-masing sambil menunggu informasi selanjutnya.

Sepanjang perjalanan menuju bandara saya menghubungi istri saya untuk memberi kabar bahwa saya tidak jadi berangkat dan akan mampir liputan di daerah Gatot Subroto. Pukul 15.40 barulah kembali ke rumah dengan disambut anak dan istri serta satu keponakan. Malaikat kecil saya begitu senang melihat saya pulang karena pagi tadi saya tidak sempat berpamitan dengannya.

Tidak lama bercanda dengan anak, telepon genggam yang ada di saku saya tiba-tiba berdering. Sebuah pesan singkat di grup Whatsapp memberitahukan bahwa keberangkatan menuju Bali hari itu telah terkonfirmasi pada pukul 21.15.

Saya terdiam sejenak sambil menatap anak saya yang sedang asyik bermain ayunan di kaki saya. “Ayah kenapa diam yok main ayunan lagi,” kata anak saya. “Maaf yah nak, ayah harus berangkat ke bandara, mainnya sama bunda aja yah,” kataku.

Saya segera bergegas mandi, pakaian, dan keluar menunggu taxi menuju bandara karena jam-jam itu merupakan jam macet. Saya tidak mengarahkan taxi untuk masuk ke jalur tol, saya lebih memilih jalur umum dalam kota untuk menghindari macet dan tepat pukul 20.12 saya sudah sampai di teriminal kedatangan 2F. Saya bersama reka-rekan lain kembali menunggu di lounge bandara.

Hingga pukul 21.00, 21.30, 22.00 sampai 22.30 kabar keberangkatan belum juga ada, sementara tiket pesawat sudah dipegang masing-masing. Pukul 23.00 kami diminta memasuki ruang keberangkatan melalui pintu 4F. “Alhamdulillah akhirnya berangkat juga,” kataku dalam hati.

Sesampai diruang tunggu pintu 4F, seorang staf Garuda menghampiri penumpang dan ia mengatakan tidak ada lagi penerbangan menuju Bali malam itu.

Ibu berkerudung tadi kembali mencak-mencak kepada panitia tour ”Anda tidak bisa seperti itu, Anda harus bertanggung jawab dan saya tidak mau tau itu,” kata Ibu itu.
Akhirnya seluruh rombongan kembali ke ruang cekkin bandara yang berada di bagian depan.

Setelah negosiasi dengan pihak Garuda, waktu keberangkatan menuju Bali akhirnya di jadwalkan ulang pukul 04.20 atau pemberangkatan Garuda pertama. Lizza dan panitia lain kembali disibukkan dengan urusan penginapan malam itu yang hanya tersisa 3 jam untuk istirahat.


Tiga lounge terpaksa disiapkan oleh panitia. Sementara saya kebagian di salah satu lounge kedatangan Garuda yang berada di lantai bawah bandara. Sebuah kursi sofa berwarna cream yang biasa digunakan untuk duduk para penumpang terpaksa kami gunakan untuk tidur dan merebahkan badan. Sebagian dari rombongan memilih tidur dilantai berbantalkan sandaran sofa.

Malam itu saya merasa sangat lelah, sangat kesal dan sangat marah apalagi sebelum itu kami harus dipimpong sana sini mencari lounge untuk tempat istirahat. Sempat terlintas untuk membatalkan perjalanan malam itu dan kembali kerumah. Tetapi Lizza dan dua orang panitia Epson lain yang juga wanita masih begitu bersemangat dan mereka mampu menyembunyikan rasa capek dari raut wajahnya yang seharian mengurusi kami. Mereka berusaha tetap tersenyum, ramah dan bekerja maksimal demi kenyamanan perjalanan kami tanpa menghiraukan diri mereka sendiri.

Mungkin rasa iba inilah yang mampu memupus amarahku sebagai seorang laki-laki yang nyaris kalah dengan tiga wanita itu. Dalam ruangan lounge beranjak tidur saya memerhatikan ketiga panitia Epson itu. Tak terkecuali Lizza yang bahkan lipstiknya yang miring kiri kananpun tidak dihiraukan lagi.

Saya tidak mengenal wanita berjilbab yang tidur berhadapan denganku tetapi saya yakin jilbabnya yang mulai tidak simetris ikut berkata bahwa “Aku lelah”.

Diatas sofa itulah yang menjadi saksi atas mimpi-mimpi indah rombongan wartawan menuju Bali dalam rangka menghadiri Hari Ulang Tahun Epson ke 15 di Indonesia. 

Bagian I
[ Read More ]
Read more...
Newer Posts Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Terpopuler
  • Terbaru
  • Arsip

Popular Posts

  • Beranda

Tenun Buton

Tour n travel

Archives

  • ►  2017 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
  • ▼  2015 (22)
    • ►  December (1)
    • ▼  November (1)
      • Perjuangan Tak Berujung
    • ►  October (2)
    • ►  September (5)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (56)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (1)
    • ►  July (4)
    • ►  June (22)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (13)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (3)
    • ►  January (3)
 

Pengunjung

Kategori

  • Cerpen (4)
  • Foto (8)
  • Informasi (6)
  • Jual Beli (6)
  • Kesehatan (1)
  • Kisah (15)
  • komedi (1)
  • Motifasiku (18)
  • Musik (3)
  • Narasumber (4)
  • news (8)
  • novel (1)
  • opini (4)
  • Puisi (11)
  • Renungan (50)
  • Wisata (6)
  • www.duniaetnik.com (1)
Powered by Blogger.

Arsip

  • ►  2017 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
  • ▼  2015 (22)
    • ►  December (1)
    • ▼  November (1)
      • Perjuangan Tak Berujung
    • ►  October (2)
    • ►  September (5)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ►  2013 (56)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (1)
    • ►  July (4)
    • ►  June (22)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (13)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (3)
    • ►  January (3)
 
 
© 2011 Julhan Sifadi | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger