skip to main | skip to sidebar

Julhan Sifadi

Aspirasi & Inspirasi

Pages

  • Beranda
 
  • RSS
  • Facebook
  • Twitter
  • Linkedin
  • Youtube
  • PIN BB
  • 23a000af
  • Line Telp
    • 0813 4156 3334
    • 0815 6611772
  • email
    • julhansifadi@yahoo.com
Sunday, 21 July 2013

Aku & Cinta Terlarang I

Posted by Julhan Sifadi at 15:18 – 0 comments
 
Mungkin aku terlalu cepat berkata sayang setelah terpesona dengan senyuman maut yang kau hempaskan seketika disiang bolong. Aromanya begitu kuat memikat menyejukkan lubuk yang tengah gusar setelah sekian lama kosong melompong diterpa ombak luntang lantung dilaut pasifik. Yah…dan harus aku akui itu memang kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan.

Hari demi hari perasaanku semakin memuncak dan kau tetap membalas setia untaian kata-kata manis yang kuberondongkan layaknya senjata otomatis tanpa kehabisan amunisi. Ahh..aku salah, aku salah…teriakku dalam hati.

Hatiku terus berkecamuk melawan keinginanku yang mulai menikmati detik demi detik kebersamaan itu. Ketinggian tembok berlin Jerman seakan tak mampu lagi membendung perasaan ini.

Setiap pundakku menyentuk bantal dipembaringan, aku tak henti berfikir akankah jembatan San Mateo California yang telah terbangun sempurna ini kan runtuh seketika jika aku memaksa untuk melaluinya.

Tuhann…ada apa ini…!!???

Hahhh…kegusaran itu perlahan lenyap saat kau berusaha meyakinkan aku ditengah beberapa pemicu bom terpasang sempurna dipijakanku. Kemesraan dan belaianmu sungguh membuatku lalai bahwa suatu saat aku akan tercabik-cabik.

Pesan-pesan cinta yang lahir tanpa dosa kau sematkan satu persatu menejam dan membuatku sesak seakan-akan kau akan halal bagiku. Bibir manismu menutupi dosa-dosa yang tersenyum menyambut kita nanti. Tubuhmu melalaikan imanku yang merintih dan tersedu-sedu sejak bertahun-tahun melindungiku.

Dua irama ini sungguh tak bisa aku tolak takkala aku menggigil dikegelapan, dan mulai tak ikhlas jika engkau mendesah pelan akibat sentakan orang lain. Aku sungguh menjadi sopir mobil mewah tanpa surat-surat yang bisa ditilang beruntun di 10 lampu merah yang aku langgar.

Mungkin otak ini yang tak mengenal etika hingga begitu mudah menyelami lautan Afrika tanpa tabung oksigen melekat dipernapasan. Ataukah hati ini yang kusam setelah diremas tangan manisnya yang kini tersenyum menikmati masa-masa barunya. Yah kau yang sedang di puncak asmara setelah mendapat genggaman erat dari seorang musyafir tanpa bekal.

Minggu, bulan, bahkan tahun…telah terlewatkan begitu suka dan duka, sementara mata ini mulai sayu memandangimu. Sesungguhnya aku telah berada jauh dari dunia yang dulu aku tangisi dan sepakati dengan Tuhan.

Ijinkan aku untuk….meretas keadaan ini…!!!

Aku mencoba melangkah maju melupakan sejenak tapak kakiku dibelakang, kubiarkan hujan melenyapkannya. Sementara kelopakku yang telah perih menahan sakitnya terpaan debu disiang hari kubiarkan bercanda ria untuk alasan air mataku menetes perlahan.

(Bersambung). Baca Cinta Terlarang II

http://julhansifadi.blogspot.com/2013/09/aku-cinta-terlarang-ii_5.html
[ Read More ]
Read more...

Wasiat Ibu Terakhir II

Posted by Julhan Sifadi at 07:30 – 0 comments
 
Setelah membaca surat itu, Annisa seakan memiliki tenaga ekstra untuk bangkit dari tempat pembaringannya. “Nenek..neeekk..neeekkk” teriaknya mencari wanita tua renta pengantar lembaran itu. Ia seolah tak meyakini surat itu datang dari wanita yang telah memperjuangkannya selama Sembilan bulan. Selama sejam ia teriak dari pondok setianya, tak satupun kata sahutan yang ia peroleh. Wanita renta itu pergi secepat kilat dan hilang bag ditelan bumi.

Annisa tertidur lelap kecapean dengan genggaman secarik kertas ditangan kanannya ditemani sayup-sayup angin dari keheningan. Suara jangkrik seakan jadi musik penyejuk ditengah garangnya rerumputan liar dipekarangan Annisa.

Keesokan harinya, Iapun berusaha tetap tegar, dan kembali membaca sepintas isi surat itu. Beberapa lembar pakaiannya yang kusut, diraihnya satu persatu, bekal singkong tak lupa ia masukkan kedalam tas untuk persiapan bekal dalam perjalanan ke kota seberang.

Tiba-tiba langkah kakinya tergetar menginjak satu persatu anak tangga pondoknya, seolah tak rela meinggalkan istana yang telah membesarkannya bertahun-tahun itu. Namun tekad dan panggilan sang Ibulah yang membuatnya harus ikhlas. Annisa terus melangkah pergi, meinggalkan kebunya, sesekali ia menengok kebelakang memperhatikan semua kenangan-kenangannya.

Untuk seorang wanita, merupakan hal yang mustahil menempuh ratusan kilometer menuju kota tanpa uang sepersen pun. Namun dengan tekadnya yang kuat ia berani mengambil keputusan itu dengan segala resiko.

Dalam perjalanan menuju kota seberang itu, Annisa harus melewati hutan, pegunungan, perkampungan, dan menyeberangi sungai. Energi ekstra sudah pasti dibutuhkan dalam perjalanannya.

Hingga suatu ketika, Annisapun terengah-engah karena kecapean setelah menempuh perjalanan selama 5 hari. Salah satu pohon rindang yang berada dibalik bukit desa Adimulyo menjadi pilihannya untuk beristirahat. Perut keroncongan, karena beberapa potong singkong rebus telah habis ia makan sehari sebelumnya, air mineralnya pun tinggal beberapa teguk. Iapun menyandarkan kepalanya kebatang pohon tersebut sambil berdoa dalam hati “Ya Tuhan..sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepadaMu dan janganlah Engkau jadikan nasib buruk kepada kami didalamnya berupa kelaparan dan kehausan,”.

Annisa nampak tertidur pulas, dengan perut keroncongan hingga mentari meredupkan cahayanya, yang disusul oleh gerimis. Jari-jari lentik Annisa mulai bergerak perlahan, seperti isyarat sesuatu telah merayapi tubuhnya. Bulu kuduknya mulai merinding, darahnya serasa membeku karena takmampu lagi mengaliri keseluruh tubuhnya. Kaku dan dingin menggigil dirasakannya seketika.
“Ohh tidak, hewan apa ini,” tanya Annisa kegelapan.

Jari-jari tangannya berusaha meraba-raba dibawah bintang dan bulan yang berselimutkan awan tebal, Ia ingin memastikan bahwa sesuatu yang merayapinya itu bukanlah hewan berbahaya.
“Oh tidak, rupanya kamu kedinginan yah,” kata Annisa setelah memastikan bahwa tamu tak diundang itu adalah seekor kucing yang sedang kedinginan diterpa gerimis.
Kucing itu didekapnya, untuk memberi penghangatan layaknya seorang ibu yang meluapkan kasih sayangnya kepada sang anak. Annisa melanjutkan tidurnya dibawah pohon besar untuk menghindari hujan yang lebih lebat, ditemani seekor kucing kecil yang mestinya masih dibawah perlindungan induknya.

Dari arah barat, nampak cahaya lentera yang semakin lama semakin mendekat padanya, Iapun mulai was-was kembali dan berjaga. Dan memang benar, rupanya cahaya itu mengarah padanya. Iapun mulai melawan rasa takut dan berusaha menenangkan diri.

Siapakah Pembawa cahaya itu? Apa tujuannya, dan bagaimana Annisa mengatasinya.? Nantikan di kisah berikutnya. (Bersambung ke bag.III)

Baca Juga Wasiat Ibu Terakhir I yang di Publikasikan di bulan Juni 2013 atau link http://julhansifadi.blogspot.com/2013/06/wasiat-ibu-terakhir.html
[ Read More ]
Read more...
Wednesday, 10 July 2013

Kembali

Posted by Julhan Sifadi at 07:30 – 0 comments
 
Dengan gerutu...kucapai dakian itu
Keringat bercucuran takkan mampu menghentikanku
Walaupun kerikil-kerikil panas melepuhkan
Wasiat ini akan kusampaikan dengan senyum

Agar kau kembali....dan pulang kehunianmu
Rumpuh-rumput yang hijau itu menantimu
Melambaikan tangannya yang telah lusuh
Raihlah selagi ia menghijau

Sebelum ia menguning dan gugur hingga kaku
Jatuh ketanah..dan terinjak oleh ribuan kaki-kaki pendosa

Aku merenung...
Aku melihat...
Aku merasakan....
dan Aku mendengar...

Kicauan burung-burung raksana meneriakimu
Garang suaranya ingin menerkammu
Mencabik dan menikmati daging-daging itu
Jangan paksa ia meronta dalam lapar

Aku senyum....
Melihat teriakan-teriakan kecil dari tepi pantai
Dan berkata "Ohh indahnya"

Aku senyum....
Melihat desiran ombak membawa ranting-ranting patah dipinggir pasir
Yang terabaikan

Menoleh aku dari hayalan
Sambil menengadah "Ohh Tuhan..Inikah dunia"

Oleh : Julhan Sifadi

[ Read More ]
Read more...
Wednesday, 3 July 2013

Sejarah Ka' bah

Posted by Julhan Sifadi at 05:06 – 0 comments
 
Sebagai renungan, semoga semakin mendekatkan kita pada Allah Swt, aamiin yrb alamin
[ Read More ]
Read more...
Newer Posts Older Posts
Subscribe to: Posts (Atom)
  • Terpopuler
  • Terbaru
  • Arsip

Popular Posts

  • Beranda

Tenun Buton

Tour n travel

Archives

  • ►  2017 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (5)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ▼  2013 (56)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (1)
    • ▼  July (4)
      • Aku & Cinta Terlarang I
      • Wasiat Ibu Terakhir II
      • Kembali
      • Sejarah Ka' bah
    • ►  June (22)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (13)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (3)
    • ►  January (3)
 

Pengunjung

Kategori

  • Cerpen (4)
  • Foto (8)
  • Informasi (6)
  • Jual Beli (6)
  • Kesehatan (1)
  • Kisah (15)
  • komedi (1)
  • Motifasiku (18)
  • Musik (3)
  • Narasumber (4)
  • news (8)
  • novel (1)
  • opini (4)
  • Puisi (11)
  • Renungan (50)
  • Wisata (6)
  • www.duniaetnik.com (1)
Powered by Blogger.

Arsip

  • ►  2017 (1)
    • ►  June (1)
  • ►  2016 (10)
    • ►  November (1)
    • ►  October (1)
    • ►  September (1)
    • ►  July (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (3)
    • ►  February (1)
  • ►  2015 (22)
    • ►  December (1)
    • ►  November (1)
    • ►  October (2)
    • ►  September (5)
    • ►  August (3)
    • ►  July (1)
    • ►  June (1)
    • ►  May (1)
    • ►  April (1)
    • ►  March (1)
    • ►  February (3)
    • ►  January (2)
  • ►  2014 (20)
    • ►  December (4)
    • ►  November (2)
    • ►  October (1)
    • ►  September (2)
    • ►  August (4)
    • ►  July (1)
    • ►  May (2)
    • ►  April (1)
    • ►  February (1)
    • ►  January (2)
  • ▼  2013 (56)
    • ►  December (2)
    • ►  November (2)
    • ►  October (2)
    • ►  September (4)
    • ►  August (1)
    • ▼  July (4)
      • Aku & Cinta Terlarang I
      • Wasiat Ibu Terakhir II
      • Kembali
      • Sejarah Ka' bah
    • ►  June (22)
    • ►  April (3)
    • ►  March (2)
    • ►  February (13)
    • ►  January (1)
  • ►  2011 (3)
    • ►  January (3)
 
 
© 2011 Julhan Sifadi | Designs by Web2feel & Fab Themes

Bloggerized by DheTemplate.com - Main Blogger