Sejak dimulai 5 tahun yang lalu, Dafam Group kini telah
berkembang menjadi perusahaan yang memiliki 30 anak perusahaan dan
mengelola kurang lebih 65 unit usaha di
bidang Properti dan Horeka (Hotel, Resto & Kafe).
Saat ini juga Dafam Hotel
Management sedang banyak melakukan pembenahan internal dan
langkah-langkah pengembangan untuk mencapai target IPO di tahun 2020.
Kehadiran Dafam Group telah memberi angin segar bagi
para pencari kerja dengan menyedot kurang lebih 5.000
SDM disemua unit usahanya. Dibalik suksesnya jaringan Dafam Hotel
Management, ada pria bernama Billy
Dahlan sebagai CEO Dafam Group. Dialah motor penggerak atas pergerakan bisnis ini.
Namun apa yang dicapai itu bukan sesuatu yang instan. Ia melaluinya dengan
penuh perjuangan, kesabaran, ketekunan, dan kerja keras.
Seperti kata pepatah, berusah-susah dahulu
bersenang-senang kemudian, Billy Dahlan pun pernah melalui banyak
tantangan, rintangan dan kesulitan sebelum menjadi seperti yang saat ini.
Sebelum fokus di Dafam
Group, ia sebelumnya pernah jatuh bangun diberbagai bisnis misalnya, tahun 2006, melanjutkan usaha ayahnya dibidang
budidaya sarang burung wallet, di Pekalongan namun tidak dilanjutkan karena menurutnya kurang
tantangan. Tahun 2007
masuk ke bisnis trading pengadaan
barang ke BUMN dan Dinas Pemerintahan.
Tahun 2008
bisnis tanaman hias, perumahan, main
saham, dan
lain-lain.
“Dimana saya gagal karena banyak ditipu orang. Ada pula bisnis gesek
tunai kartu kredit dan leasing kecil-kecilan pokoknya
semua saya coba. Tahun itu bersamaan dengan krisis ekonomi, saya
banyak rugi dari pada untungnya sempat
tinggal uang ditabungan hanya Rp 600 ribu,” cerita Billy
Dahlan, CEO Dafam Group.
Setelah
sempat down dan hampir putus asa
karena kegagalan demi kegagalan, ia merenung
beberapa saat untuk mempelajari dan me-review
perjalanan usahanya. Ia mencoba mencari point-poin
apa saja yang membuatnya gagal.
“Ternyata saya sering melangkah terlalu berani dan
tidak pernah memikirkan management resiko.
Berpedoman high risk high profit
tapi profit belum tercapai sudah termakan oleh risk dulu. Saya pun banyak
mengerjakan semua sendiri dan tidak memakai professional yang memang di
bidangnya,” kata Billy lagi.
Setelah kejadian itu ia banyak membenahi diri dan merampingkan
usaha-usaha yang perlu di hilangkan dan
lebih fokus terhadap bisnis baru yang lebih menjanjikan. Maka dipilihlah perhotelan sebagai bisnis barunya.
Pilihan tersebut berwal dari pertemuan dan perbincangannya bersama Andhy Irawan pada tahun 2009 yang kala itu ia masih menduduki
posisi General
Manager dari salah satu hotel Chain di
Indonesia.
“Kita kemudian ngobrol santai sambil ngopi dan
saya iseng tanya ke dia, bisnis hotel
menguntungkan ngga?. Setelah
ngobrol panjang lebar, saya mulai paham dan akhirnya timbul ketertarikan untuk
membangun hotel. Sekarang Andhy Irawan
ikut saya sebagai partner sekaligus Managing Director di divisi usaha
perhotelan saya,” kata suami dari Hanna Siswanto itu.
Pada awalnya
keluarga sempat tidak setuju dengan bisnis hotel karena harus menggunakan
pembiayaan dari bank yang cukup besar.
Maklum dari dulu ayahnya tidak pernah punya hutang. Namun ia tetap bersikeras pada tekadnya.
Kejadian ini
membuatnya harus keliling bertemu cukup banyak orang
untuk belajar mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan dari ayahnya, mulai dari
konsultan proyek, pakar keuangan hotel, direksi perbankan untuk produk-produk
kredit, dan sebagainya.
“Awalnya saya ketemu orang-orang
yang jauh lebih senior dari saya seringkali dipandang rendah dan tidak
dianggap. Maklum karena waktu itu saya
masih berusia 24 tahun dan tidak memiliki background
di bisnis perhotelan atau property
sebelumnya. Pertama kali saya mengajukan
kredit konstruksi pun harus presentasi ke lebih dari 10 bank nasional dan
ditolak. Saya maju terus sampai akhirnya salah satu bank menyetujui,” kenangnya.
Berbagai tantangan tersebut tidak membuatnya menyerah,
dan selama 9 bulan harus melewatinya. Hasilnya, dibulan ke sepuluh pada Januari
2010 ia berhasil memulai bisnis pertamanya dibantu konsultan perencana Andhy Irawan.
“Pembangunan hotel
pertama bottom up saya handle sendiri dari perencanaan
bangunan, pembuatan studi kelayakan, presentasi ke bank, urus perijinan,
pemilihan kontraktor dan tender, proses konstruksi, administrasi legal dan keuangan, interview karyawan, dan lain-lain,” cerita Billy.
Setelah itupun masih banyak tantangan yang harus dihadapi misalnya untuk
mendapatkan kepercayaan dari client dan tamu kepada brand DAFAM yang sama sekali belum
pernah mereka dengar sebelumnya.
“Ini merupakan proses belajar awal saya karena sebelumnya tidak pernah
punya pengalaman dibidang ini. Setelah
itu saya baru mulai rekrut banyak orang untuk mempercepat pengembangan usaha. Setelah 5
tahun, sekarang saya lebih banyak fokus di Holding
Company untuk pembenahan tata kelola perusahaan yang baik di seluruh unit
usaha Dafam Group dan strategy ke depan,” kata pria lulusan Diploma Marketing &
Communication,
London itu.
Ketertarikannya terhadap industri perhotelan rupanya
sudah menjadi hobby sejak kecil. Dimana saat itu ia sejak kecil sering membeli
buku-buku tentang arsitektur dan interior. Ia juga suka dengan gedung-gedung
tinggi dan bangunan mewah, bahkan sering mimpi jika suatu saat ingin memiliki
gedung highrise tetapi ia saat itu tidak tahu harus
memulainya dari mana. Apalagi menurutnya saat itu untuk sektor properti butuh modal
banyak dan skill dibidang itu, dan
sebagainya yang saat itu ia belum miliki.
Setelah menelaah panjang lebar kala itu, ia yakin
bahwa dari
segi resiko, bisnis perhotelan cukup aman. Selain umur usaha ini cukup panjang,
bila dikelola dengan management yang baik kemungkinan untuk tutup atau bangkrut sangatlah kecil. Selama pintu lobby terbuka pasti dapat penghasilan. Lain dengan bisnis properti lain seperti perumahan, apartment, mall dimana cashflow
bisa tersendat karena unitnya tidak terjual atau
tersewa.
Nilai tambah
lain adalah bisnis hotel merupakan bisnis high
profile dimana pastinya banyak mendatangkan opportunity bisnis-bisnis lain.
“Setelah membangun beberapa hotel milik sendiri,
saya melihat banyak pengusaha besar juga melirik industri ini. Tiba-tiba banyak
sekali orang membangun hotel di seluruh Nusantara. Disini saya melihat peluang untuk jadi
Operator Hotel. Pada waktu itu
perusahaan operator hotel tidak begitu banyak hanya dikuasai oleh 5 perusahaan
besar. Sebab itulah saya kemudian
mendirikan PT. Dafam Hotel Management.
Pada tahun
2012, portfolio bisnis Dafam Hotel
Management lebih
berat ke usaha jangka panjang khususnya hotel dan gedung komersial untuk
disewakan. Untuk menyeimbangkan
portfolio investasi, Ia mulai harus
berfikir untuk usaha yang bisa mendatangkan keuntungan jangka pendek dan
menengah.
“Disitulah saya mulai masuk ke bisnis Perumahan
untuk usaha jangka menengah dan restoran, kafe, karaoke untuk usaha jangka pendeknya,” kata Billy.
Dalam bekerja ia memiliki 4 kiat sukses, yaitu
pertama, selalu
mengedepankan integritas. Kedua, tidak pernah berhenti belajar, selalu ada level selanjutnya yang harus dicapai (Sky is the
limit). Tiga, kerja keras
dan jangan pernah menyerah. Semua masalah PASTI ada solusinya. How can you beat a person that never give
up? You cant. Ke Empat, Network is
the key. Invest big in it.
“Filosofi saya dalam mengembangkan Dafam adalah
berbagi. Karena saya paham betul kekuatan
dan kelemahan saya. Saya tidak punya
spesifik skill di bidang tertentu. Saya kuat di logika bisnis, strategic planning, networking, communication
dan closing deal. Jika saya mau
pengembangan ke usaha baru, pasti saya cari pilot di operasionalnya dulu. Sering kali orang yang saya recruit akhirnya jadi partner bisnis
saya. Saya pun cukup berani untuk
membayar konsultan di berbagai bidang untuk mempercepat proses belajar saya,” tutup pehobi Good Food, Good Wine, dan Good Company itu.
Julhan Sifadi (Terbit di Majalah Franchise Indonesia edisi Oktober 2015).











